Tren Penurunan Harga Kebutuhan Pokok Pasca-Bencana di Sumatera dan Aceh Januari 2026

Selasa, 27 Januari 2026 | 12:00:49 WIB
Tren Penurunan Harga Kebutuhan Pokok Pasca-Bencana di Sumatera dan Aceh Januari 2026

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan harga kebutuhan pokok di daerah terdampak bencana, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pada akhir Januari 2026. Penurunan ini tercatat pada minggu keempat Januari setelah sebelumnya mengalami inflasi tinggi akibat bencana.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, ketiga provinsi sempat mengalami tekanan harga yang signifikan. Namun, per 23 Januari 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) di wilayah tersebut menunjukkan tren menurun.

“Sumatera Barat, IPH minus 4,47, artinya ada penurunan harga,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Perkembangan Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa. Penurunan ini terutama didorong oleh komoditas cabai merah, bawang merah, dan bawang putih.

Di Sumatera Utara, IPH tercatat minus 3,63 persen. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng, yang menjadi kebutuhan pokok utama masyarakat.

Sementara itu, Aceh yang sempat mencatat inflasi tertinggi pada Desember 2025, kini mengalami IPH minus 1,33 persen. Komoditas yang menjadi penopang penurunan harga di Aceh adalah cabai merah, telur ayam ras, dan tempe.

Peningkatan Harga Kebutuhan Pokok di Wilayah Lain

Meski beberapa provinsi di Sumatera menunjukkan penurunan, IPH tertinggi pada minggu keempat Januari 2026 tetap berada di wilayah Indonesia timur. Maluku Utara mencatat IPH 1,26 persen, terutama didorong oleh beras, bawang merah, dan cabai rawit.

Selain itu, Kalimantan Barat menyumbang IPH tinggi sebesar 1,07 persen. Komoditas penyumbang kenaikan harga di provinsi ini adalah daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit, sedangkan Papua Barat sebesar 0,81 persen dengan andil dari daging ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi.

Kabupaten dan kota tertentu juga masih mengalami kenaikan harga kebutuhan pokok pasca-bencana. Contohnya, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang mencatat kenaikan IPH tertinggi hingga 10,7 persen, meski secara provinsi Aceh mengalami penurunan harga.

Komoditas yang menyumbang kenaikan di daerah ini antara lain daging ayam ras, beras, dan daging sapi. Kota Langsa turut mengalami kenaikan IPH sebesar 1,01 persen, yang dipengaruhi oleh harga daging ayam ras, beras, dan udang basah.

Gambaran Umum Penurunan dan Kenaikan IPH

Amalia menegaskan, secara umum Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah mengalami penurunan IPH pada level provinsi. Hanya ada titik-titik tertentu di kabupaten atau kota yang masih mencatat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pasca-bencana di daerah terdampak masih berlangsung secara bertahap. Faktor lokal, seperti pasokan logistik dan distribusi komoditas, menjadi penentu perbedaan tren harga di setiap kabupaten atau kota.

Selain wilayah Sumatera dan Aceh, Pulau Jawa juga mengalami kenaikan IPH pada beberapa komoditas. Kenaikan harga di wilayah ini terutama disebabkan oleh daging ayam ras dan cabai rawit.

Di luar Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, komoditas yang menjadi penyumbang kenaikan IPH meliputi cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga kebutuhan pokok masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Strategi Pemantauan dan Penanganan Harga Kebutuhan Pokok

BPS terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di seluruh Indonesia, terutama di daerah terdampak bencana. Pemantauan ini bertujuan agar pemerintah dapat merespons kenaikan harga dengan cepat dan tepat sasaran.

Amalia menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga agar masyarakat terdampak bencana tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok. Langkah ini juga mendukung pemulihan ekonomi lokal dan menjaga daya beli masyarakat.

Dengan adanya data IPH yang akurat, pemerintah dan pelaku usaha dapat merencanakan distribusi komoditas secara lebih efisien. Hal ini penting untuk menghindari kelangkaan barang dan tekanan harga yang berlebihan di tingkat lokal.

Pemulihan harga kebutuhan pokok di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menunjukkan dampak positif dari intervensi pasca-bencana. Penurunan harga di level provinsi memberikan harapan bagi masyarakat bahwa situasi ekonomi mulai stabil meskipun beberapa titik masih mengalami kenaikan.

Tren fluktuasi IPH di wilayah Indonesia timur dan Kalimantan Barat mengingatkan perlunya pemantauan lebih intensif. Langkah ini penting untuk mengantisipasi lonjakan harga di daerah rawan pasokan dan memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau.

Amalia menekankan bahwa meski beberapa daerah masih menghadapi kenaikan, secara keseluruhan tren harga kebutuhan pokok di daerah terdampak bencana mulai menunjukkan perbaikan. Hal ini menjadi indikator awal pemulihan ekonomi lokal pasca-bencana.

BPS akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pusat. Tujuannya untuk menjaga kestabilan harga dan memastikan distribusi komoditas penting berjalan lancar bagi seluruh masyarakat.

Terkini