JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, mengalami pelemahan tipis di awal sesi. Hingga pukul 09.34 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp16.803 per USD, melemah 21 poin atau 0,13 persen dari penutupan sebelumnya.
Sementara data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp16.774 per USD, melemah empat poin atau 0,02 persen dari perdagangan sebelumnya. Perbedaan pergerakan ini menunjukkan volatilitas yang masih terjadi di pasar valas domestik.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Meski demikian, ia memprediksi mata uang Garuda akan kembali menguat ke rentang Rp16.750 hingga Rp16.900 per USD.
Pelemahan rupiah kali ini salah satunya disebabkan oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan sekutu NATO mengenai Greenland. Retorika mantan Presiden Donald Trump soal kepentingan strategis AS di wilayah Arktik memicu kekhawatiran pasar terhadap dampak diplomatik dan ekonomi global.
Selain isu Arktik, Trump juga memperparah ketegangan perdagangan dengan Kanada. Ia mengancam akan mengenakan tarif 100 persen pada barang-barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok.
Pernyataan Trump di media sosial menyebut Kanada dapat dijadikan 'pelabuhan transit' barang-barang Tiongkok. Ia bahkan memperingatkan Beijing akan 'memakan Kanada hidup-hidup' jika kesepakatan tersebut tetap berjalan.
Pengaruh Kebijakan Moneter AS terhadap Pergerakan Rupiah
Selain isu geopolitik, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve turut memengaruhi rupiah. The Fed dijadwalkan mengakhiri pertemuan kebijakannya pada Rabu, di mana investor memprediksi suku bunga akan dipertahankan.
Meskipun jeda kenaikan suku bunga telah sebagian besar diperhitungkan, komentar Ketua The Fed Jerome Powell tetap menjadi perhatian pasar. Investor menunggu petunjuk terkait waktu dan laju potensi penurunan suku bunga pada akhir tahun 2026.
Sentimen global tersebut mendorong fluktuasi rupiah terhadap dolar, namun tidak sepenuhnya menekan stabilitas mata uang domestik. Rupiah masih mampu bertahan karena dukungan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmen menjaga stabilitas rupiah. Intervensi dilakukan melalui pasar offshore NDF, DNDF, serta pasar spot untuk meredam volatilitas yang muncul.
Cadangan devisa (cadev) Indonesia yang lebih dari cukup menjadi faktor penopang tambahan. Dukungan ini memastikan BI memiliki ruang untuk stabilisasi nilai tukar sesuai kebutuhan pasar.
Sentimen Positif dari Penunjukan Thomas Djiwandono
Selain faktor global, pasar merespons positif pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Setelah fit and proper test di Komisi XI DPR RI, pengangkatan ini dianggap memperkuat stabilitas dan profesionalisme bank sentral.
Keputusan tersebut memberi sinyal positif bagi investor, karena diyakini dapat memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal. Sentimen ini turut membantu rupiah bertahan dari tekanan eksternal meski terjadi fluktuasi di awal perdagangan.
Thomas Djiwandono, yang sebelumnya menjabat Wamenkeu, diharapkan dapat menjaga kredibilitas BI dalam pengelolaan nilai tukar. Dukungan terhadap rupiah diyakini akan tetap ada melalui kebijakan suku bunga, cadangan devisa, dan intervensi pasar yang tepat.
Rupiah kini berada di persimpangan antara sentimen global dan fundamental domestik yang kuat. Penguatan tipis pada sesi sebelumnya menunjukkan adanya optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Meskipun volatilitas masih tinggi, analis memprediksi mata uang Garuda akan menguat secara bertahap. Sentimen positif dari kebijakan BI dan stabilitas ekonomi domestik menjadi penopang utama.
Pergerakan rupiah juga menunjukkan bahwa pasar menilai fundamental ekonomi Indonesia solid. Inflasi rendah, imbal hasil yang menarik, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik tetap menjadi faktor penguat nilai tukar.
Investor perlu memperhatikan kombinasi antara ketegangan global dan kebijakan domestik. Hal ini penting agar strategi investasi atau hedging terhadap valuta asing dapat dilakukan dengan tepat.
Dengan momentum ini, rupiah berpotensi mengalami penguatan moderat dalam beberapa hari ke depan. Dukungan BI, bersama ekspektasi kebijakan moneter AS yang stabil, menjadi kunci penguatan tersebut.
Secara keseluruhan, meski tertekan oleh isu geopolitik dan ekspektasi suku bunga, rupiah menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Faktor domestik yang kuat mampu menahan pelemahan lebih dalam dan memberikan sentimen positif di pasar valas.